Sekolah Berstandar Internasional Reduksi Identitas Indonesia
Senin, 06 April 2009 21:44 WIB
Penulis : Deri Dahuri
JAKARTA–MI: Sekolah bertaraf internasional (SBI) muncul bak cendawan di musim hujan. Bukan hanya pengelola swasta, sejumlah sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA) negeri juga membuat kelas internasional.
Ternyata penelitian menunjukkan sebagian besar siswa SBI memiliki aspek kognitif keindonesian sangat rendah. “Sekolah tidak mendorong tumbuhnya identitas sebagai orang Indonesia,” kata M Fajri Siregar, sarjana sosiologi Univeristas Indonesia yang meneliti sejumlah SBI di Jakarta Selatan.
Pada diskusi publik yang bertajuk Membedah kebijakan sekolah bertaraf internasional di Jakarta, Senin (6/4), Fajri juga mengatakan SBI telah membentuk ketimpangan pendidikan antara mereka dari keluarga kaya dan keluarga miskin. Fajri menjelaskan bahwa sebuah SBI yang ditelitinya selain menggunakan kurikulum nasional, juga mengadopsi dari University of Cambridge International Examination.
Pengajarnya yang terdiri dari 37 pengajar, hanya enam orang yang berasal dari lokal. Selain itu, jabatan kepala sekolahnya juga dipegang orang asing. “Padahal orang-orang asing yang mengajar di Indonesia belum ada peraturan dan belum diuji kompetensi mereka. Guru Indonesia hanya pelajaran Indonesia studies,” katanya.
Pakar pendidikan HAR Tilaar mengatakan SBI yang bermunculan sekarang merupakan tempat pendidikan yang tidak nasionalis. “SBI dan kelas internasional lebih menjurus pada korporasi atau komersialisasi pendidikan,” katanya.
Guru Besar Emeritus Universitas Negeri Jakarta (UNJ) itu mengatakan munculnya SBI dan kelas internasional menunjukkan pendidikan telah mengarah pada neoliberalisme pendidikan. “Sekarang pendidikan sudah menjadi komoditi yang diperjualbelikan. Apalagi didukung Perpres No 7 Tahun 2007 mengenai investasi asing dalam pendidikan nasional,” katanya.
Kepala Sekolah Kanisius dan pengamat pendidikan Baskoro mengatakan bahwa SBI sebenarnya ‘sekolah bertarif internasional’. Pasalnya biaya SBI dan kelas internasional itu mulai dari Rp 20 jutaan hingga Rp60 jutaan per tahun.
Baskoro menilai pemerintah yang mendorong pendirian SBI sebagai bentuk perhatian pendidikan kepada segelintir orang. Padahal masih jutaan anak Indonesia yang pendidikan masih tertinggal. “Mereka itu yang seharusnya mendapat perhatian,” katanya.
Pengamat pendidikan dari Universitas Paramadina Utomo Dananjaya menilai bahwa pendidikan Indonesia telah terkooptasi Organization for Economoc Cooperation and Development (OECD).”Siswa SBI saat ditanya mereka lebih mengenal Barack Obama dari pada calon presiden Indonesia,” katanya.
Pendidikan Indonesia yang memunculkan SBI dan kelas internaional telah membelah kelompok anak dari orang tua kaya dan orang tua miskin.
Padahal, katanya, Raden Mas Soewardi Surjadiningrat adalah orang hasil pendidikan sekolah Belanda. Ketika rasa nasionalismenya muncul dan peduli pada rakyat kecil, ia mendirikan perguruan Taman Siswa dan namanya diganti jadi Ki Hadjar Dewantara. (Drd/OL-03)
1 Comment »
Leave a Reply
-
Recent
- The Power of Dream
- Cambridge IGCSE
- Stella Maris International School offers new range of qualifications under Cambridge International Centre
- It’s Not Too Late To Make A Career Change
- Mengintip Kecerdasan Anak Sejak Dini
- Antonius Tanan Mendidik “Entrepreneur”
- Rahasia Merangsang Otak si Kecil
- CHINESE NEW YEAR 2010: Wishes Upon A Sky Lantern
- KEGIGIHAN
- BEING AN INTERNATIONAL SCHOOL
- The International Baccalaureate Corner
- Apa itu KTSP?
-
Links
-
Archives
- September 2011 (2)
- April 2010 (1)
- March 2010 (2)
- February 2010 (3)
- December 2009 (3)
- November 2009 (1)
- October 2009 (1)
- September 2009 (3)
- April 2009 (10)
- March 2009 (21)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS
[...] have read some concerns about the sekolah-sekolah berstandar internasional (SBIs) in Indonesia. One of these concerns is the reduction of the Indonesian identity as a result of the attempted shift towards [...]
Pingback by Indonesian education: must SBIs mean a reduction of the Indonesian identity? | Singapore Educational Consultants | November 17, 2009 |