Stella Maris School

Siap Menjadi Yang Terdepan

“To be the best school in Indonesia… “ itulah sekelumit visi yang dicapai Stella Maris dalam prosesnya menjadi wadah pendidikan terbaik. Stella Maris terus berbenah tidak hanya dalam hal proses belajar mengajar tetapi juga pengembangan fasilitas dan media ajar. Berawal dari pembelajaran jenjang KB/TK dan SD di sebuah ruko di kawasan Sektor XIV BSD tahun 1995, tahun demi tahun Stella Maris terus meningkatkan dan mengembangkan kinerja dengan membangun dua sekolah terpadu, Stella Maris School dan Stella Maris International School.

Berdirinya dua sekolah tersebut, tidak dijalani secara instan namun melalui perjalanan panjang. Tahun 2000 Gedung Stella Maris School berdiri di Jln. Artha Kencana Sektor XII BSD City Tangerang, melayani jenjang pendidikan dari KB/TK hingga SMA. Hingga tahun 2005, Stella Maris mengembangkan sayap memenuhi tuntutan global dengan menyediakan program internasional untuk sekolah menengah atas (IB Diploma Program). Masyarakat menyambut baik program internasional di Sekolah Stella Maris hingga akhirnya pada tahun 2007 Stella Maris melayani program internasional dari jenjang Preschool hingga IB Diploma di Vatican Cluster Sektor 8A Gading Serpong Tangerang.

Terealisasinya pembangunan struktur pendidikan yang kompleks di Stella Maris menjadikan Stella Maris lebih dikenal masyarakat luas tidak hanya nasional tetapi juga internasional. Untuk melayani peserta didik yang berasal dari luar kota Tangerang, Stella Maris International School menyediakan fasilitas asrama (dormitory) putra dan putri. Stella Maris International School mengutamakan disiplin, kenyamanan, dan keamanan putra putri asrama, dengan menyediakan pendampingan Ibu Asrama, peraturan yang tepat, dan pengawasan asrama 24 jam. Saat ini putra-putri asrama tidak hanya berasal dari daerah Jabotabek tetapi juga dari luar pulau Jawa. Ini semata-mata wujud Sekolah Stella Maris dalam menunjukkan eksistensi dan perannya dalam dunia pendidikan di Indonesia.

Pembangunan infrastruktur sekolah sampai tahun 2009 ini terus dilakukan. Pada tahun ajaran 2009/2010, Stella Maris International School menyelesaikan tahap pembangunan kelas Junior Secondary (lantai 3) dan Primary (lantai 4). Stella Maris International School juga berencana mendirikan foodcourt (kantin terpadu) tahun 2009 ini untuk siswa Preschool hingga IB Diploma, dan Auditorium Saint John di Gedung San Pietro. Dengan bertambahnya fasilitas diharapkan mampu mengakomodir kebutuhan siswa-siswi, guru, dan karyawan Stella Maris. Stella Maris International School juga sedang giat meningkatkan penghijauan di seputar sekolah dengan melibatkan siswa-siswi, guna menumbuhkan kepekaan siswa terhadap lingkungan sekitarnya.

Dengan pembangunan infrastuktur internal, Stella Maris International School bermaksud menjadi yang terdepan tidak hanya dalam bidang akademis maupun non akademis. Are you ready for the next better generation? So come and join with Stella Maris School and Stella Maris International School.

Oleh: Roswita O, Student Admission Stella Maris International School

April 20, 2009 Posted by | Uncategorized | , , , , , | Leave a Comment

‘Pendidikan Internasional’, Bagaimanakah Maknanya?

Belum hilang dari ingatan kita tentang peledakan bom di depan Kedubes Australia 10 September lalu, kembali kita didera oleh peledakan bom yang meski bukan terjadi di negara kita, namun meledaknya persis di depan Kedubes RI di Paris. Kembali nama Indonesia dikaitkan dengan “bom”. Mungkin juga ada yang mengkaitkannya dengan isu terorisme di Indonesia.

Lantas apa hubungannya dengan judul tulisan ini? Jelas ada kaitannya, karena siapapun pelaku pemboman itu pastilah orang yang terdidik. Entah dengan sistem pendidikan yang bagaimana, dan dengan tujuan pendidikan yang seperti apa.

Apalagi menjelang pembetukan kabinet di hari-hari terakhir ini, muncul beberapa nama dijagokan sebagai menteri, dalam hal ini Menteri Pendidikan. Siapapun beliau yang terpilih nantinya, yang pasti sudah lolos fit and proper test oleh presiden, tidaklah perlu diperdebatkan. Yang penting sekarang adalah bagaimana kita meningkatkan mutu pendidikan di negara kita, sehingga kita mempunyai manusia yang berkualitas dan memiliki rasa kepedulian akan sesama yang tinggi. Sehingga nantinya takkan ada lagi pelaku pemboman yang berasal dari warga negara Indonesia yang ironisnya mengakibatkan korban duka bagi bangsanya sendiri.

Dulu, menteri pendidikan selalu diidentikkan dengan perubahan kurikulum. Setiap ada pergantian kabinet dan perubahan jajaran menteri, pastilah akan diikuti oleh perubahan kurikulum. Namun, dengan dicanangkannya Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) diharapkan bahwa kurikulum pendidikan tidak akan selalu berubah dan berubah.

KBK sendiri masih agak dirisaukan oleh beberapa pendidik. Bukan karena KBK-nya, namun sosialisasinya yang masih dianggap kurang bergema. Tugas para pendidik sekarang adalah memahami arti KBK sesungguhnya dan sebenar-benarnya sehingga para pendidik akan mampu mengimplementasikan sistem tersebut ke dalam pembelajaran dengan para anak didiknya.

Namun tugas mendidik bukan hanya ada di beban para pendidik (guru) saja, semua lapisan masyarakat, lingkungan kecil (keluarga) dan pemerintah mengambil peranan dalam mendidik anak bangsa.

Pendidikan Internasional

Belakangan ini muncul tren di beberapa sekolah yang mengklaim dirinya menerapkan pendidikan internasional. Dengan mengadopsi kurikulum asing dan mendatangkan para pengajar dari negara asal kurikulum, sekolah-sekolah ini berani menyebutkan bahwa kurikulum mereka berkualitas pendidikan internasional.

Sebenarnya standar pendidikan internasional bukan sekedar pendidikan yang menggunakan bahasa internasional. Bukan hanya pada kulitnya. Harusnya pendidikan internasional bukan melulu mempromosikan penggunaan bahasa asing. Pendidikan internasional harus dimaknai dengan pendidikan yang menjadikan anak didiknya berpikir secara terbuka dan internasional, open and international minded. International minded dimana di dalamnya para anak didiknya kelak akan menjadi manusia yang ‘berwarga negara internasional’ atau istilahnya sebagai global citizen. Jadi pendidikan internasional bukan sekedar kulit belaka, namun lebih pada esensi yang terletak di dalamnya, dalam pembelajarannya.

Dalam pendidikan internasional, kurikulum yang diterapkan boleh-boleh saja kurikulum nasional, tetapi di dalamnya disisipkan pendidikan untuk ber-internasional. Artinya, anak didik dijejali dengan pendidikan akan hidup dalam suasana damai di dunia, dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusian, diberikan makna perdamaian internasional, dan arah kehidupan yang lebih baik. Bentuk pendidikan semacam ini bukan dalam tingkat pendidikan teori, namun harus diterapkan secara nyata.

Dalam four pillars of education in UNESCO, ada empat dasar pendidikan, yakni: Learning to Know (Belajar untuk mengetahui); Learning to Do (Belajar untuk bertindak); Learning to Be (Belajar untuk menjadi (seseorang); dan Learning to Live Together (Belajar untuk hidup bersama). Empat dasar ini adalah pegangan kita dalam penerapan semua kurikulum pendidikan di negara kita.

Pertanyaannya sekarang adalah apakah sistem pendidikan kita sudah mengacu ke sana? Apakah dengan dicanangkannya sistem baru, Kurikulum Berbasis Kompetensi, kelak akan muncul manusia Indonesia yang berbudi luhur dan berpikiran internasional? Semua ini pekerjaan rumah kita bersama.

Program Dasar Organisasi Internasional Baccalaureate/ IB-PYP (International Baccalaureate-Primary Years Programme)

Adalah PYP-Primary Years Programme, program yang berasal dari organisasi internasional Baccalaureate yang non-profit dan bermarkas di Jenewa. Ada lima belahan dunia sebagai anak cabang IBO (International Baccalaureate Organization), dan Indonesia masuk belahan wilayah Asia Pasifik yang bermarkas di Singapura. Program ini sudah diimplementasikan oleh lebih dari 1500 sekolah di lebih dari 115 negara. PYP didesain untuk anak didik usia 3-12 tahun, yakni setara dengan pra-sekolah/ TK dan tingkat dasar/ SD. Selain PYP, IBO mempunyai program MYP (Middle Years Programme) untuk para didik seusia SMP dan SMU (11-16 tahun); dan Diploma untuk usia 16-18 tahun.

Di Indonesia telah banyak sekolah yang menerapkan program ini. Khususnya yang berada di kota-kota besar, mulai dari Medan, Jakarta, Bogor, Bandung, Surabaya dan Bali. Program ini bukan hanya diimplementasikan di sekolah-sekolah dengan seting internasional saja tetapi bisa juga diterapkan di sekolah-sekolah berseting berbeda. Bahkan di Australia, program ini juga diterapkan di sekolah milik pemerintah. Kebanyakan sekolah di Indonesia yang menerapkan program PYP adalah yang dulunya mengidentifikasikan dirinya dengan label Sekolah National-Plus. Meskipun sampai kini masih banyak juga yang memperkenalkan diri sekolahnya dengan sebutan Sekolah National-Plus. Program PYP benar-benar program berstandar internasional dalam arti yang sesungguhnya, karena dalam program ini selain menerapkan pelajaran Bahasa Inggris sebagai satu dari mata pelajarannya, Bahasa Ibu, dalam hal ini Bahasa Indonesia- bila diterapkan di Indonesia, masih harus dipakai. Anak didik harus tetap dikenalkan dengan budaya local dan harus tetap diajak berpikir tentang apa yang ada di sekitar lokalnya. Namun pada saat bersamaan, program ini membuat anak didik untuk berpikir secara internasional dengan cara mengajak mereka untuk peduli akan situasi yang ada di dunia luar – Act locally, think globally. Juga dengan cara mengajarkan kepada anak didik adanya perbedaan di antara sesama, dan dengan cara menerapkan profil-profil manusia yang mengarah ke dalam kehidupan yang lebih baik.

Profil siswa PYP adalah yang ‘berpengetahuan (knowledgeable); punya rasa ingin tahu (inquirer) yang berani mengambil resiko (a risk-taker); yang peduli (caring) namun tetap berprinsip (principle); pemikir sejati (thinker) yang berpikiran terbuka (open minded); seimbang secara fisik-mental-rohani (well-balanced); mampu berkomunikasi (communicator); juga bisa berefleksi (reflective).

Dalam PYP, pelajarannya terintegrasi (dengan sebutan interdisciplinary) dengan halus. Antara pelajaran Bahasa (baik Bahasa Indonesia dan Inggris), Pendidikan Sosial dan Ilmiah, Seni dan Ketrampilan dan Pendidikan Jasmani terjalin korelasi yang baik karena tersusun dengan adanya unit pembelajaran. Ada enam unit yang dipelajari para siswa di tingkat level yang berbeda dalam satu tahun ajaran, mulai dari membahas diri kita sebagai manusia sampai dengan pembahasan tentang kehidupan kita di bumi untuk berbagi dan menjaga sumber-sumber kekayaan alam yang terbatas ini dengan sesama. Enam unit tersebut adalah Who We Are/ Siapa Diri Kita, Where We Are In Place and Time/ Dimana Kita Pada Tempat dan Waktu Tertentu, How We Express Ourselves/ Bagaimana Kita Mengekspresikan Diri Kita, How The World Works/ Bagaimana Dunia Bekerja, How We Organize Ourselves/ Bagaimana Kita Mengatur Diri Kita dan How We Share The Planet/ Bagaimana Kita Berbagi Planet.

Dalam pembelajaranya, PYP menggunakan semua yang ada di kelas (baik guru maupun teman) dan di luar kelas (keluarga dan lingkungan) sebagai sumber-sumber belajar. Jadi sumber belajar bukan terbatas pada buku saja. Seringkali lingkungan yang tidak kita duga sebagai sumber belajar, dapat menjadi sumber belajar yang menakjubkan. Contoh nyata adalah ketika pembahasan unit How We Express Ourselves, tentang tata cara berkomunikasi baik dengan atau tanpa kata-kata, maka pada kesempatan tersebut para peserta didik diajak mengunjungi teman-teman yang kekurangan (yang tidak dapat mendengar dan berbicara / tuna rungu-tuna wicara dan juga yang tidak dapat melihat – tuna netra). Dalam interaksinya dengan para siswa yang kekurangan ini, selain belajar tentang bagaimana berkomunikasi dalam bentuk yang berbeda, para siswa PYP secara tidak langsung belajar bagaimana menerima perbedaan dan kekurangan sesama. Secara langsung dan nyata, semua siswa (baik yang kekurangan dan yang tidak) belajar berbagi dalam makna yang sesungguhnya. Mereka berbagi rasa, berbagi cerita dan tentu saja berbagi pengalaman.

‘Pengalaman adalah guru yang terbaik’. Demikian kata pepatah. Namun benarlah juga, karena para siswa yang duduk di bangku sekolah dasar adalah mereka yang masih muda dan segar dalam menghadapi dan menjalani hidup. Dengan berpengalaman langsung, maka arti pembelajaran menjadi lebih signifikan dan bermakna.

PYP dan KBK

PYP menggunakan sistem KBK. PYP menempatkan anak didik sebagai subjek pembelajaran. Bukan sebagai objek. Anak didik ditempatkan pada tingkat paling atas. Students as the center of learning. Anak didik juga harus berperan aktif. Anak didik diajak ke dalam seting pembelajaran yang terdesain untuk melihat kemampuan dan kompetensi siswa secara individu, karena setiap siswa adalah berbeda. Every child is unique.

PYP dan KBK sama-sama menerapkan activity-based learning/ pembelajaran berdasar kegiatan. Sehingga tugas para siswa adalah aktif ‘bekerja’ untuk mendapatkan pengetahuan, menemukan konsep dan mengasah ketrampilan, tanpa melupakan nilai-nilai perilaku/ attitudes.

Sama. PYP dan KBK juga sama-sama mempunyai tujuan mendidik peserta didik menjadi manusia sesungguhnya, yang mempunyai kemampuan individu yang tangguh dan mampu memecahkan masalah (problem solver) tanpa harus menunggu diberi, juga manusia yang tidak meninggalkan sisi-sisi nilai kemanusian (profil kemanusian) yang terbuka dan berpikiran secara internasional.

Di dalam PYP ada istilah ‘inquiry based learning’ yaitu pembelajaran berdasarkan inquiry. Kata inquiry bermakna ‘suka mencari tahu’. Penerapannya dalam kegiatan belajar-mengajar adalah para peserta didik diajak untuk mempunyai rasa penasaran akan hal-hal yang belum diketahuinya melalui pembelajaran yang aktif dan terseting dalam suasana penelitian/ riset sederhana. Anak didik akan diajak untuk berpikir, dan mengalami sendiri. Dengan melakukan sendiri, maka para peserta didik akan lebih mampu memaknai arti pembelajaran yang sesungguhnya. Inquiry – suka mencari tahu dengan belajar – ini bisa dilaksanakan dalam KBK.

Untuk memiliki sifat suka belajar, para peserta didik harus ditempatkan ke dalam suasana yang aman, nyaman dan menyenangkan. Suasana yang enjoy-ful, fun but healthy adalah suasana kelas seting PYP dan KBK. Siswa akan senang belajar. Belajarnya bukan karena terpaksa, karena harus menghafal isi halaman buku, dan bukan hanya karena akan ada ulangan pada keesokkan harinya, tetapi mereka benar-benar senang belajar. Para siswa ini nantinya akan menjadi manusia yang senang belajar sepanjang hidupnya (life-long learners). Ini adalah harapan kita semua, bukan?

Peranan para pendidik di konsep pendidikan internasional

Dalam penerapannya di kurikulum, KBK bisa masuk ke dalam semua kegiatan pembelajaran. Kurikulum (yang) Berdasarkan Kemampuan siswa wajib dilihat para pendidik sebagai dasar melangkah ke tingkat selanjutnya. Dalam arti, setiap individu tidak sama. Ada yang cepat dalam hal menangkap makna pembelajaran, namun ada pula yang lambat. Ada yang mempunyai gaya belajar yang unik, misalnya suka mendengar daripada menulis, maka para pendidik wajib mengenali gaya belajar ini. Ada juga siswa yang enggan melakukan kegiatan karena merasa kemampuannya sudah lebih daripada teman-temannya, maka sekali lagi tugas para pendidk untuk mengakomodasi setiap perbedaan dan keunikan para anak didiknya di kelas.

Cara atau strategi yang diterapkan dalam PYP dan KBK adalah sama. Yakni
hubungan yang terjalin antara para pendidik dan para anak haruslah hubungan yang erat dan sehat. Perlu digarisbawahi bahwa para pendidik bukanlah orang yang mengetahui segala tentang ilmu pengetahuan, bukan pula orang yang harus ditakuti (namun dihormati), tetapi peran para pendidik adalah sama dengan para anak didik, yakni mereka sama-sama pembelajar. Demikian sebaliknya, anak didik wajib terbuka dan berani bertanya kepada para pendidik tentang apa yang hendak diketahuinya.

Para pendidik wajib memberi kesempatan kepada anak didik untuk mengutarakan ide atau pemikirannya. Ada siswa yang sangat terbuka, karena memang sudah demikian personality-nya, namun ada pula siswa yang introvert. Maka para pendidik wajib sabar menunggu dan memandu.

Tugas para pendidik dan anak didik di seting KBK adalah sebagai pembelajar yang sama-sama aktif, baik secara individu maupun secara kelompok. Adakalanya kegiatan individu berjalan dengan baik, karena sudah terseting dari awal dalam suasana yang mendukung. Misalnya dalam suasana kelas yang harmoni dengan adanya peraturan kelas yang ditaati oleh semua anggota kelas. Namun ada kalanya, rencana kegiatan belajar tidak berjalan sesuai harapan. Semua ini wajar-wajar saja. Baik dalam PYP maupun KBK, semua proses pembelajaran wajib dimaknai. Bukan hanya melihat pada product atau hasil akhirnya saja, namun process over product pun penting untuk direfleksikan. Maka pendidikan yang membuat siswa yang memiliki pemikiran terbuka dan internasional, harus tetap tentu diterapkan- makna sesungguhnya pendidikan internasional.

Peranan para pendidik di kelas adalah sebagai pembimbing, fasilitator/ pemandu, motivator dan juga sebagai penilai kemampuan siswa. Di sisi lain, peranan pendidik adalah sebagai pendisain dan pelaksana kurikulum, dan tentu saja sebagai manajer kelas dan anak didik.

Dalam pendidikan internasional, para pendidik harus pandai menyelipkan nilai-nilai kemanusian ke dalam semua mata pelajaran dan dalam semua kegiatan secara berkelanjutan. Kegiatan yang dirancang haruslah sedemikian rupa sehingga anak didik tidak hanya belajar ilmu, namun juga belajar nilai.

Tugas ini tentu saja bukan tugas ringan. Apalagi dengan adanya keterbatasan pengetahuan dan pemahaman kita sebagai manusia, namun alangkah baiknya bila kita saling berbagi. Berbagi dalam segala informasi dan pengetahuan, sehingga semua yang kita ajarkan kepada para peserta didik benar-benar yang bermakna.

Dengan belajar sendiri (membaca maupun berdiskusi) maupun mengunjungi sekolah-sekolah yang sudah menerapkan KBK, maka diharapkan semua pendidik memiliki pemahaman serupa tentang KBK. Sehingga ‘pendidikan internasional’ bukan sekedar di kulit belaka, namun bisa diterapkan ke dalam semua level sekolah yang ada di seluruh nusantara.

Selamat berjuang para pembelajar!!!!
Surabaya, 9 Oktober 2004
Frida Dwiyanti
Koordinator PYP Sekolah Ciputra,

Saya Frida Dwiyanti setuju jika bahan yang dikirim dapat dipasang dan digunakan di Homepage Pendidikan Network dan saya menjamin bahwa bahan ini hasil karya saya sendiri dan sah (tidak ada copyright).

April 14, 2009 Posted by | Uncategorized | , , , , , , , | Leave a Comment

Ujian Nasional dan Tiket Masuk ke PTN

DUNIA pendidikan lagi-lagi memunculkan persoalan baru. Meski belum bisa dilaksanakan pada tahun ini, ada keinginan menjadikan hasil ujian nasional sebagai salah satu dasar seleksi ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi.

Gagasan itu tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 2009 tentang Standar Pendidikan Nasional. Pasal 68 PP itu menyebutkan nilai kelulusan ujian nasional sekolah menengah atas (SMA) dan madrasah aliah (MA) bisa menjadi salah satu dasar masuk ke perguruan tinggi negeri (PTN).

Dengan demikian, PTN tidak lagi menyodorkan soal-soal yang sudah diujikan dalam ujian nasional. PTN hanya melakukan seleksi berupa tes bakat skolastik, intelegensi, bakat, minat, dan kesehatan sesuai dengan kriteria pada satuan pendidikan.

Bagi satuan pendidikan diberi waktu transisi selama tujuh tahun untuk bisa melaksanakan ketentuan seperti diatur dalam PP Nomor 19/2009 itu.

Yang pasti, akibatnya, beban materi dan psikis siswa terus bertambah. Untuk ujian nasional yang digelar pada medio April-Mei mendatang saja, para siswa harus belajar ekstra keras. Sebab, standar kelulusan dinaikkan lagi dari 5,25 menjadi 5,50. Dana yang dikucurkan pun tidak tanggung-tanggung mencapai Rp572 miliar.

Dana sebesar itu merupakan bagian dari pagu anggaran untuk sektor pendidikan yang mencapai Rp244 triliun pada tahun ini seperti diamanatkan konstitusi, yakni 20% dari APBN 2009.

Yang menjadi persoalan, apakah sebelum melaksanakan ujian nasional pemerintah sudah meningkatkan kualitas guru, kelengkapan sarana dan prasarana sekolah, dan akses informasi yang lengkap di seluruh Tanah Air?

Sejatinya, dengan alokasi anggaran sangat besar dalam APBN 2009, persoalan-persoalan mendasar di dunia pendidikan seperti itu sudah mulai diperbaiki dan dibenahi. Perbaikan bangunan sekolah di seluruh Indonesia haruslah menjadi prioritas utama. Sebab, bukan hal baru banyak bangunan sekolah, terutama di daerah terpencil dan daerah bencana, yang sangat tidak layak pakai sebagai wadah proses belajar-mengajar.

Karena itu, negara harus punya kemauan dan kemampuan untuk membangun dunia pendidikan yang sejajar dan setara di seluruh daerah agar ketimpangan-ketimpangan yang menganga lebar bisa diperkecil. Langkah itu penting dilakukan sebagai upaya untuk mengatasi ketertinggalan satu daerah dari daerah lain. Bahkan mestinya dengan standar yang lebih tinggi lagi sehingga bangsa ini mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain.

Dalam konteks itulah, negara semestinya memiliki program dan kebijakan di sektor pendidikan yang jelas, terarah, dan berkesinambungan. Perlu pula dibangun akuntabilitas, transparansi, dan pengawasan terhadap penggunaan keuangan negara untuk sektor pendidikan agar perintah konstitusi anggaran pendidikan 20% dari APBN benar-benar tepat sasaran.

Perlu diingatkan bahwa gagasan menjadikan ujian nasional sebagai syarat masuk perguruan tinggi jangan sekadar arena uji coba. Bukan masanya lagi para siswa menjadi kelinci percobaan sebuah kebijakan. Itu kalau bangsa ini tidak mau semakin tertinggal dari bangsa-bangsa lain.

April 14, 2009 Posted by | Uncategorized | , , , , , , | Leave a Comment

Membangun Potensi Anak Bangsa

SALAH satu upaya meningkatkan mutu pendidikan dasar dan menengah serta menambah wawasan peserta didik, ialah dengan menjalankan pola pengembangan bakat dan minat siswa dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Baik pada tingkat nasional maupun internasional.

Setiap tahun, sejak 2001 Ditjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, Departemen Pendidikan Nasional mengadakan kompetisi Olimpiade Sains Nasional (OSN), sebagai salah satu alat untuk mengukuhkan penguasaan siswa terhadap ilmu-ilmu dasar. Ajang berskala nasional itu diikuti oleh pelajar-pelajar berbakat dan berprestasi pada jenjang SD/MI, SMP/MTs, dan SMA/MA.

Hasil pendidikan yang memiliki nilai kompetisi nasional dan internasional tentu akan dipengaruhi oleh banyak faktor. Di antaranya yang sangat dominan adalah input. Dalam dunia pendidikan, yang dimaksud dengan input adalah siswa. Dengan segala macam kemampuan dan bakat yang dimilikinya, siswa akan berproses menjadi sumber daya manusia yang bermutu melalui proses pendidikan.

Oleh karena itu, siswa yang memiliki standar mutu yang tinggi ketika masuk sebuah sekolah akan menentukan mutu proses pembelajaran maupun hasilnya (output). Paradigma seperti itu pula yang diyakini oleh panitia penyelenggara OSN.

Untuk mendapatkan calon peserta olimpiade nasional, panitia penyelenggara telah mengembangkan suatu sistem dan mekanisme seleksi. Mekanisme seleksi dibuat lewat beberapa tahapan. Mekanisme itu berlaku untuk setiap jenis olimpiade. Namun, modifikasi dapat dilaksanakan sesuai karakteristik keilmuan tiap-tiap bidang studi.

Hal itu dibuat agar hasil seleksi nantinya benar-benar menjadi duta pendidikan dalam olimpiade internasional. Untuk itu seleksi diselenggarakan secara terbuka dan adil, serta terlepas dari latar belakang sosial-ekonomi, jenis kelamin, suku, maupun agama.

selain untuk menemukan bibit-bibit asal daerah, tahapan seleksi yang diselenggarakan dari kabupaten/kota hingga provinsi itu juga untuk menggugah kesadaran pemerintah terhadap arti penting pendidikan secara umum. Hal itu diakui masih banyak kendala dan hambatan.

Selain faktor finansial, mungkin ada kendala yang berkaitan dengan mutu sekolah. Adalah suatu kenyataan bahwa mutu sekolah antarkota atau kabupaten yang ada di seluruh Indonesia itu tidak sama. Dengan pemahaman yang mendalam terhadap materi yang telah dicantumkan dalam kurikulum nasional, tampaknya masih banyak siswa sekolah dari kota atau kabupaten yang belum mampu bersaing atau tidak memiliki kompetensi untuk berprestasi. Selanjutnya, prestasi pada hakikatnya dapat ditingkatkan melalui kompetisi. Semakin ketat kompetisi, semakin tinggi pula motivasi untuk berprestasi. OSN merupakan salah satu strategi dan metode peningkatan prestasi yang sangat efektif. Untuk menunjang prestasi yang lebih tinggi, calon peserta olimpiade yang berhasil lulus seleksi di tingkat kabupaten/kota akan mengikuti kompetisi di tingkat provinsi.

Setelah itu seleksi nasional sebagai puncak dari proses kompetisi bagi calon duta intelektual Indonesia. Setiap bidang studi akan menentukan strategi dan sasaran seleksi berbeda-beda. Untuk tingkat SD/MI, bidang yang diperlombakan adalah matematika dan IPA. Tingkat SMP/MTs, adalah bidang matematika, fisika, dan biologi. Sedangkan pada SMA/ MA, bidang matematika, fisika, biologi, kimia, komputer/Informatika, astronomi, dan ekonomi.

Keberadaan olimpiade nasional memang bukan satu-satunya indikator yang dapat dipergunakan mengukur mutu pendidikan antardaerah dan antarsekolah. Namun, penggunaan data peserta olimpiade untuk menyusun rekomendasi kebijakan dan program peningkatan mutu sekolah adalah langkah yang tepat.

Rekomendasi

Keikutsertaan Indonesia dalam olimpiade internasional adalah memberikan kesempatan kepada pelajar Indonesia untuk berprestasi dan menguji kemampuan dalam bidang Iptek di tingkat nasional maupun internasional, membangun manusia bangsa yang tangguh dan mempunyai identitas nasional, serta meningkatkan peran serta bangsa Indonesia di tengah perubahan dunia.

Pengalaman dalam olimpiade tentu menjadi sejarah yang positif bagi dunia pendidikan. Membangun image yang positif dalam pergaulan internasional merupakan keharusan. Ketika kondisi ekonomi, politik, budaya, dan tata nilai semakin sulit dilakukan oleh Indonesia, maka kompetisi di sektor pendidikan justru dapat berbicara di masyarakat dunia dan memberi semangat baru.

Secara nasional, seluruh tahapan seleksi dan pembinaan olimpiade internasional telah membawa bangsa kita kepada suatu pemikiran, kebijaksanaan, dan program pembangunan pendidikan di Tanah Air. Oleh karena itu, beberapa hal berikut ini dapat dijadikan pertimbangan dan rekomendasi dalam pembinaan olimpiade internasional dan peningkatan wawasan keilmuan di kalangan siswa.

Desentralisasi pendidikan sebagai konsekuensi dari pelaksanaan UU Nomor 22/1999 perlu mengutamakan pemerataan mutu pendidikan di jenjang SD, SMP, dan SMA atau yang sederajat. Tiga strategi kewilayahan dapat dikembangkan untuk mengantisipasi kesenjangan mutu pendidikan.

Pertama, merumuskan kebijakan pendidikan nasional yang mendukung daerah tertinggal di wilayah Indonesia Timur. Bentuk intervensi, finansial maupun manajemen pendidikan, masih diperlukan oleh pemerintah pusat untuk daerah itu. Untuk berpartisipasi dalam seleksi Olimpiade Sains Nasional memerlukan suatu bentuk kolaborasi antara Departemen Pendidikan Nasional dan Pemerintah Daerah Tingkat Kabupaten/Kota secara lebih intensif.

Kedua, melakukan peningkatan kemampuan terhadap wilayah provinsi yang mutu pendidikannya dalam kategori sedang berkembang. Ada potensi finansial yang besar di daerah yang termasuk kategori berkembang itu. Oleh karenanya pemasyarakatan program perlu dilakukan agar kegiatan Olimpiade Sains Nasional dipahami oleh badan-badan penyandang dana lokal.

Ketiga, peran universitas di setiap provinsi juga belum kelihatan dalam mempersiapkan siswa maupun rekayasa mutu sekolah dalam jangka panjang. Sejauh mana kapasitas dan sumber dana lokal dapat difungsikan untuk menyukseskan kegiatan olimpiade tentu masih perlu penelitian. Dengan otonomi daerah, peranan dari pemerintah daerah terhadap dunia pendidikan diharapkan akan lebih peduli terhadap siswa yang berprestasi untuk tahun mendatang.

Secara teknis, sistem dan mekanisme seleksi maupun pembinaan sudah cukup mantap. Perbaikan materi dan pembinaannya memang masih diperlukan, agar bisa mengikuti perubahan yang terjadi dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di dunia. Secara praktis keterpaduan antara kemampuan dan kecepatan itu masih perlu dimantapkan sebagai prioritas pembinaan siswa sebelum berangkat ke arena olimpiade internasional. Ekspansi kegiatan dan penyelenggaraan kompetisi berprestasi sangat tepat untuk dijadikan model pembinaan mutu siswa.

Di masa depan ilmu pengetahuan dan teknologi serta informasi akan terus berkembang. Sekolah sebagai salah satu lembaga bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia telah menerima amanat untuk mengubah tantangan supaya menjadi peluang yang berguna bagi generasi muda. Apakah olimpiade internasional di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi telah menciptakan budaya kompetisi sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional kita? Kita semua juga yang akan menjawabnya.

Oleh Dr Sungkowo Direktur Pembinaan SMA Depdiknas

April 14, 2009 Posted by | Uncategorized | , , , , , , , , | Leave a Comment

Sekolah Berstandar Internasional Reduksi Identitas Indonesia

Senin, 06 April 2009 21:44 WIB
Penulis : Deri Dahuri

JAKARTA–MI: Sekolah bertaraf internasional (SBI) muncul bak cendawan di musim hujan. Bukan hanya pengelola swasta, sejumlah sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA) negeri juga membuat kelas internasional.

Ternyata penelitian menunjukkan sebagian besar siswa SBI memiliki aspek kognitif keindonesian sangat rendah. “Sekolah tidak mendorong tumbuhnya identitas sebagai orang Indonesia,” kata M Fajri Siregar, sarjana sosiologi Univeristas Indonesia yang meneliti sejumlah SBI di Jakarta Selatan.

Pada diskusi publik yang bertajuk Membedah kebijakan sekolah bertaraf internasional di Jakarta, Senin (6/4), Fajri juga mengatakan SBI telah membentuk ketimpangan pendidikan antara mereka dari keluarga kaya dan keluarga miskin. Fajri menjelaskan bahwa sebuah SBI yang ditelitinya selain menggunakan kurikulum nasional, juga mengadopsi dari University of  Cambridge International Examination.

Pengajarnya yang terdiri dari 37 pengajar, hanya enam orang yang berasal dari lokal. Selain itu, jabatan kepala sekolahnya juga dipegang orang asing. “Padahal orang-orang asing yang mengajar di Indonesia belum ada peraturan dan belum diuji kompetensi mereka. Guru Indonesia hanya pelajaran Indonesia studies,” katanya.

Pakar pendidikan HAR Tilaar mengatakan SBI yang bermunculan sekarang merupakan tempat pendidikan yang tidak nasionalis. “SBI dan kelas internasional lebih menjurus pada korporasi atau komersialisasi pendidikan,” katanya.

Guru Besar Emeritus Universitas Negeri Jakarta (UNJ) itu mengatakan munculnya SBI dan kelas internasional menunjukkan pendidikan telah mengarah pada neoliberalisme pendidikan. “Sekarang pendidikan sudah menjadi komoditi yang diperjualbelikan. Apalagi didukung Perpres No 7 Tahun 2007 mengenai investasi asing dalam pendidikan nasional,” katanya.

Kepala Sekolah Kanisius dan pengamat pendidikan Baskoro mengatakan bahwa SBI sebenarnya ‘sekolah bertarif internasional’. Pasalnya biaya SBI dan kelas internasional itu mulai dari Rp 20 jutaan hingga Rp60 jutaan per tahun.

Baskoro menilai pemerintah yang mendorong pendirian SBI sebagai bentuk perhatian pendidikan kepada segelintir orang. Padahal masih jutaan anak Indonesia yang pendidikan masih tertinggal. “Mereka itu yang seharusnya mendapat perhatian,” katanya.

Pengamat pendidikan dari Universitas Paramadina Utomo Dananjaya menilai bahwa pendidikan Indonesia telah terkooptasi Organization for Economoc Cooperation and Development (OECD).”Siswa SBI saat ditanya mereka lebih mengenal Barack Obama dari pada calon presiden Indonesia,” katanya.

Pendidikan Indonesia yang memunculkan SBI dan kelas internaional telah membelah kelompok anak dari orang tua kaya dan orang tua miskin.

Padahal, katanya, Raden Mas Soewardi Surjadiningrat adalah orang hasil pendidikan sekolah Belanda. Ketika rasa nasionalismenya muncul dan peduli pada rakyat kecil, ia mendirikan perguruan Taman Siswa dan namanya diganti jadi Ki Hadjar Dewantara. (Drd/OL-03)

April 14, 2009 Posted by | Uncategorized | , , , , , , | 1 Comment

RSBI “Yes”, Fasilitas Eksklusif “No”

Ada fenomena menarik yang kita amati berkenaan dengan maraknya program rintisan sekolah bertaraf internasional atau RSBI. Jika kita menyebut RSBI, yang terbayang adalah sekolah dengan “standar” internasional, dan kebanyakan dari sekolah yang telah ditetapkan menjadi RSBI, baik oleh Dinas Pendidikan Provinsi maupun Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional.Kenyataannya semua itu terjebak pada standar fasilitas semata. Kebanyakan sekolah akan menyediakan “fasilitas yang berstandar internasional” sehingga beban masyarakat untuk mendapatkan pendidikan di sekolah tersebut menjadi tinggi. Namun, jika kita mengacu pada tujuan program RSBI, yang diharapkan adalah bahwa peserta didik dan lulusan harus mampu menguasai seluruh kompetensi “berstandar internasional”. Dengan demikian, pada saatnya mereka mampu berkompetisi di tingkat internasional.

Itu adalah hakikat sejati dari amanat Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 50 Ayat 3 yang menyatakan bahwa pemerintah dan/atau pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu satuan pendidikan pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi satuan pendidikan bertaraf internasional.

Kenyataan di lapangan ialah tidak seluruh pemerintah kota/pemerintah daerah, sekolah, dan masyarakat di setiap kota/kabupaten tersebut mampu memberikan daya dukung untuk menyediakan fasilitas berstandar internasional tersebut. Maka, kembali kepada hakikat amanat UU adalah hal terbaik yang harus dilakukan sekolah.

Standar internasional

Hal pertama yang harus dilakukan adalah dengan menyusun rencana pengembangan sekolah (school development and investment plan) yang salah satu komponen utamanya adalah kurikulum berstandar internasional. Jika kita menelaah dengan baik, hal yang harus dilakukan adalah mengkaji kurikulum yang telah ada dan membandingkannya dengan kurikulum berstandar internasional.

Dengan demikian, kurikulum yang diterapkan di sekolah adalah kurikulum hasil adaptasi kurikulum internasional. Jadi, bukan kurikulum adopsi kurikulum internasional atau kurikulum nasional yang dialihbahasakan ke dalam bahasa Inggris dan diakui sebagai kurikulum internasional. Spirit ini harus benar-benar diperhatikan karena sesuai dengan fungsinya, sekolah adalah “industri” yang mencetak sumber daya manusia yang andal dan kurikulum merupakan komponen kunci untuk mewujudkannya.

Kurikulum hasil kajian tersebut tidak harus selalu berbahasa Inggris karena kurikulum yang baik adalah kurikulum yang mampu menghasilkan peserta didik dan lulusan yang bermutu walaupun ia dituliskan dalam bahasa apa pun. Kedua, banyak sekolah terjebak pada anggapan bahwa di RSBI seluruh proses belajar-mengajar (PBM) harus dilaksanakan dalam bahasa Inggris.

Hal ini juga patut digarisbawahi karena keadaan di lapangan menunjukkan bahwa hanya sedikit guru yang menguasai bahasa Inggris untuk menyampaikan pembelajaran. Dengan kenyataan yang memprihatinkan ini, dikhawatirkan esensi pembelajaran tidak tersampaikan dengan baik karena keterbatasan penguasaan bahasa. Maka, peningkatan kompetensi bahasa Inggris guru yang sesuai dengan mata pelajaran yang diampu merupakan satu hal yang wajib dilakukan sekolah.

Janganlah kita bergenit bahasa. Jepang sebagai negara yang menghasilkan lulusan bermutu internasional tetap menerapkan kurikulum berbahasa Jepang dan melaksanakan PBM dalam bahasa ibu mereka. Namun, jika seluruh komponen sekolah telah siap, tentu saja kurikulum dan perangkat pembelajaran lainnya dan bahkan PBM akan lebih baik disampaikan dalam bahasa internasional agar suasana dan budaya internasional dapat dirasakan dan dialami seluruh komponen sekolah.

Kemitraan

Hal yang amat penting untuk diaplikasikan dalam pelaksanaan PBM adalah mengajarkan siswa tentang budaya dan nilai internasional. Ini yang sering dilupakan. Sekolah harus mengajarkan sikap ilmiah, open-minded, kompetitif, equity, sportif, jujur dan tanggung jawab.

Selain pembenahan kurikulum, peningkatan kompetensi guru, dan pelaksanaan PBM, kemitraan adalah hal yang penting dilakukan. Sebab, keberhasilan pencapaian tujuan pada saat ini bukan lagi terletak pada keberhasilan individu, melainkan kelompok yang bersinergi satu sama lain. Kemitraan bisa dimulai dengan sekolah sejenis di dalam negeri sehingga ketika seluruh infrastruktur siap, RSBI mampu bermitra dengan sekolah di luar negeri yang dianggap “berkualitas internasional”.

Dengan bermitra, akan banyak pelajaran yang bisa dipetik karena mitra dapat berbagi pengetahuan dan pengalaman untuk perbaikan dan peningkatan kualitas.

Jika program komponen kurikulum, guru, budaya sekolah, dan kemitraan telah terlaksana dengan baik, pencapaian “standar internasional” akan lebih mudah diraih. Tentu saja dengan mengoptimalkan fasilitas yang ada sehingga sekolah tidak membebani masyarakat dengan biaya yang terlalu tinggi, selain tidak menimbulkan kesan eksklusif pada sebagian siswa yang mampu.

RIKA RACHMITA SUJATMA Penanggung Jawab Program RSBI SMA Negeri 1 Subang

April 14, 2009 Posted by | Uncategorized | , , , , , , | 1 Comment

SBI Harus Penuhi Delapan Standar

Rabu, 8 April 2009 | 20:56 WIB

Laporan wartawan KOMPAS Indira Permanasari S

JAKARTA, KOMPAS.com – Sekolah bertaraf internasional (SBI) harus terlebih dahulu memenuhi delapan standar nasional pendidikan. Delapan standar nasional tersebut ialah standar isi, proses, kompetensi lulusan, pendidik dan tenaga kependidikan, sarana, pengelolaan, pembiayaan, dan penilaian.

Demikian dinyatakan Kepala Pusat Informasi dan Humas Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas), Muhadjir, Rabu (8/4). Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) merupakan amanat Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Perundangan itu mengamanatkan pemerintah dan pemerintah daerah menyelenggarakan sekurang-kurangnya satu sekolah pada semua jenjang pendidikan untuk dikembangkan menjadi sekolah bertaraf internasional.

Muhadjir menyatakan, SBI juga diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan dan Renca na Strategis Depdiknas tahun 2005-2009.

Kebijakan Depdiknas tahun 2007 tentang Pedoman Penjaminan Mutu Sekolah/Madrasah Bertaraf Internasional pada jenjang pendidikan dasar dan madrasah juga menyatakan bahwa sekolah dan madrasah bertaraf inter nasional merupakan sekolah yang sudah memenuhi standar nasional pendidikan. Pengembangan sekolah itu kemudian diperkaya dengan mengacu kepada standar pendidikan salah satu negara anggota Organization for Economic Cooperation and Development (OECD).

Selain negara anggota OECD, sekolah itu dapat juga mengacu kepada negara lain yang mempunyai keunggulan tertentu di bidang pendidikan sehingga mempunyai daya saing di forum internasional. Negara yang diacu oleh sekolah bertaraf internasional di Indonesia tersebut dianggap telah memiliki reputasi mutu yang diakui secara internasional dan lulusannya memiliki kemampuan daya saing internasional.

April 14, 2009 Posted by | Uncategorized | , , , , , , | Leave a Comment

Harley Goes to School

Sarana transportasi massa di Indonesia didominasi oleh kendaraan roda dua. Tiap hari penjualan sepeda motor mengalami peningkatan dibanding kendaraan roda empat. Lainhalnya dengan Motor Gede (MoGe), motor asal Milwauke USA ini lebih sedikit dan hanya didominasi warga kota dengan kelas ekonomi menengah ke atas. Pengendara Harley Davidson kerap dilekatkan dengan identitas tak bersahabat, eksklusif, arogan, dan senang berfoya-foya. Penampilan bikers yang berbeda dengan pengendara motor lain – identik dengan warna hitam, tatoo di badan – berkesan menakutkan. Benarkah? ternyata anggapan sebagian besar masyarakat tersebut tidaklah benar.

Beberapa klub bikers atau pengendara Harley Davidson sering mengadakan acara-acara sosial untuk masyarakat. Konsisten dengan mottonya “keep brotherhood” (kesatuan dan kekeluargaan) para biker mengadakan berbagai acara/ kegiatan kepedulian masyarakat. Salah satunya dalam bidang pendidikan, Harley Davidson Club Indonesia (HDCI) dan Harley Owner Group (HOG) akan mengadakan kegiatan “Harley Goes to School”. Acara ini akan diadakan di Stella Maris International School pada tanggal 2 Mei 2009 bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional. Dengan tema pendidikan, HDCI dan HOG akan memberikan pemahaman kepada siswa-siswi sekolah menengah mengenai berkendara yang aman (safety riding) dan taat lalu lintas.

Perlu kita ketahui, pengendara Harley Davidson mendapat dukungan dari polisi dalam program safety riding. Bikers sudah memenuhi syarat dalam hal pemakaian perlengkapan berkendara di jalan raya, dan layak menjadi contoh bagi para pengendara motor lainnya. Oleh karena itu, para biker bermaksud menularkan ilmunya mengenai berkendara yang baik kepada siswa-siswi sekolah menengah dari 100 sekolah di Tangerang. Tidak hanya itu, dalam acara “Harley Goes to School” ini akan dilangsungkan juga kegiatan donor darah, bazzar, Harley Show, Atraksi Harley Davidson, dan acara Inspiring the Young Generation oleh bikers berpengalaman. Dengan acara ini, siswa-siswi diharapkan mempunyai pengalaman dan dapat menggali informasi sebanyak-banyaknya dari para biker berpengalaman.

Sebagai salah satu sepeda motor dengan sejarah yang panjang, diharapkan Harley Davidson Club Indonesia dan Harley Owner Group juga bisa mencetak sejarah sebagai motor dengan kepedulian sosial yang tinggi terhadap berbagai sektor kehidupan masyarakat. Mari ikut bergabung bersama bikers dalam mendidik generasi muda Indonesia untuk berkendara secara aman dan taat pada peraturan lalu lintas.

April 13, 2009 Posted by | Uncategorized | , , , , , , , , , , | Leave a Comment

Materi Pelajaran Komputer untuk Kelas 12 SMA

Materi Pelajaran Komputer mengenai Open Office & Macromedia Dreamweaver untuk Kelas 12 SMA

Download Materi

April 2, 2009 Posted by | Uncategorized | , , , , , | Leave a Comment

Materi Pelajaran Sains untuk Kelas 4 SD

Materi Pelajaran Sains mengenai “Pesawat Sederhana” untuk Kelas 4 SD

Download Materi

April 2, 2009 Posted by | Uncategorized | , , , | 1 Comment

   

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.